Ahli Membuat Prompt

Artificial intelegent (Ai) berkembang dengan pesat. Saking pesatnya, sampai-sampai kita tidak bisa membayangkan apa saja yang bisa dia lakukan. Tidak bisa juga kita membayangkan keterlibatannya dalam alat-alat keseharian yang biasa kita gunakan. Saat browsing, lihat medsos, marketplace, dsb., dia sudah pasti terlibat. Mungkin juga saat kita mengendarai mobil, berlalu lintas di jalan? Entahlah.

Dua hal yang sudah jelas-jelas bisa dia lakukan dan sering kita temui di dalam keseharian adalah bagaimana dia dengan cerdik dan cerdasnya membuat tulisan dan foto—tentu sudah jelas juga dia bisa membuat video, hanya saja itu tidak akan kita bicarakan di sini.

Foto Bikinan Ai

Foto yang diam bisa dibuatnya bernafas, hidup walau barang sesaat. Dia juga bisa membuat foto dari sebuah kejadian atau tempat yang tidak ada. Dia bisa memanipulasi foto yang sudah ada agar dimaknai berbeda. Kalau Anda suka tenis, Anda bisa membuat foto di samping Federer di Kejuaraan Wimbledon, seolah-olah Anda telah bertanding dan mengalahkan Federer. Kalau Anda suka tinju, Anda bisa membuat foto bersama Tyson di atas ring, seolah Anda dan Tyson sedang memperebutkan sabuk WBC.

Ya, photoshop telah lama melakukannya. Tetapi Anda harus menguasai aplikasi dengan baik. Anda juga harus memiliki sense atau rasa seni serta pengetahuan yang memadai agar gambar yang dimanipulasi terlihat nyata, entah itu tentang warna, komposisi, anatomi, dsb. Singkatnya, Anda harus menjadi ahli. Untuk menjadi ahli Anda harus menghabiskan banyak waktu, baik untuk belajar maupun berlatih. Keahlian diasah dengan waktu.

Namun, dengan Ai, Anda hanya perlu ahli membuat Prompt.

Prompt, singkatnya, adalah instruksi Anda untuk Ai. Anda maunya apa, Anda bahasakan/tulis, dan selanjutnya serahkan pada Ai. Semakin jelas instruksi Anda, semakin Ai tahu apa yang sesungguhnya Anda harapkan. Sebaliknya, kalau instruksi Anda tidak jelas, Ai akan menebak-nebak, sehingga hasilnya boleh jadi tidak sesuai dengan yang Anda bayangkan.

Kenapa Tidak Ada ‘Ditulis Ai’?

Bagaimana dengan tulisan? Sama saja. Dulu, orang menghabiskan banyak waktu untuk mengasah kemampuan menulis. Sebab, perlu bekal dan keterampilan agar kita bisa membahasakan pikiran, gagasan, keluhan, marah, dsb. Setiap orang mesti punya pikiran, gagasan atau keresahan atas suatu hal, tetapi tidak semua orang bisa menuangkannya ke dalam tulisan.

Proses penuangan itu adakalanya mengalir seperti menumpahkan air dari dalam ember, adakalanya setetes demi setetes seperti air keluar dari keran yang mampet. Adakalanya lancar seperti melewati jalan tol, adakalanya sulit dan berdarah-darah seperti melewati jalan kerikil yang belum diaspal. Ya, itu disebut bagian dari proses. Cara menuangkan apa yang kita pikirkan agar orang yang membaca bisa memahaminya. Cara itu meliputi logika tulisan, pikiran yang runtut, dan tata bahasa. Singkatnya, cara agar orang yang membaca bisa memahami apa yang ingin kita sampaikan.

Artinya, itu baru ke tahap agar orang tahu informasi tentang satu hal. Kita ingin menginformasikan bahwa di Tasikmalaya, pada hari Selasa tanggal 20 Januari 2026, telah diberlakukan aturan bahwa saat mengendarai sepeda motor setiap pengendara wajib bersepatu. Lalu kita tuliskan dengan baik, dan orang yang membaca menjadi tahu dengan aturan tersebut, tanpa pusing, tanpa mikir. Hanya sebatas itu, tetapi itu susahnya minta ampun.

Itu karenanya belum termasuk kemampuan membuat orang tertarik membaca tulisan kita dari awal sampai akhir. Orang tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga merasa tertawan dengannya. Orang tidak hanya enggan mencampakkan tulisan kita sebelum selesai membacanya, tetapi juga menunggu tulisan kita yang lain, yang akan datang.

Kemampuan itu tidak turun dari langit. Lagi-lagi itu dibentuk oleh pengalaman berliterasi yang tidak sebentar, dipadukan dengan keuletan dan kesabaran dalam menjalani setiap proses. Menjenuhkan? Sudah pasti.

Tentu saja, semua yang dibicarakan ini hanya sekadar “kemampuan membuat sebuah tulisan yang baik dan menarik,” bukan membuat “tulisan yang baik, menarik, sekaligus khas”. Untuk menjadi khas sudah pasti jauh lebih sulit. Anda harus memiliki gaya. Sehingga orang mengenal tulisan Anda, meskipun di tulisan itu nama Anda tidak dicantumkan. Gaya tulisan Anda menjadi identitas Anda. Caranya? Entahlah, mungkin dengan sering bereksperimen, mungkin juga dengan membaca dan terpapar gaya tulisan sebanyak-banyaknya sehingga ketika menulis, gaya Anda merupakan bentukan dari semua yang telah Anda baca. Dan itu terjadi begitu saja, tanpa sadar. Konsistensi kemudian membuat identitas Anda terbentuk. Untuk sampai ke tahap itu, sudah pasti amat sangat sulit.

Namun, dengan Ai, lagi-lagi Anda hanya perlu ahli membuat Prompt.

Kasih saja Ai instruksi untuk membuat tulisan tentang MBG dengan gaya Mahbub Djunaedi, maka dalam waktu kurang dari satu menit ia akan memberikan tulisan kocak dan tajam khas Mahbub Djunaedi. Tentu tidak bisa sama plek dengan Mahbub, tetapi setidaknya pembaca bisa merasakan humor khasnya. Begitu pula kalau Ai disuruh membuat tulisan tentang topik yang sama tetapi dengan style Gunawan Muhammad. Ai akan memberikan tulisan dengan diksi-diksi ‘puitis’ khas Gunawan Muhammad.

Plagiasi? Tidak Penting

Tulisan bikinan Ai bukan lagi di tahap “baik dan menarik”, tetapi juga “khas”.  Dan itu diperoleh tidak dengan berdarah-darah, hanya dengan menulis Prompt! Sialnya, jika foto-foto bikinan Ai sering diberi keterangan “ilustrasi dibuat Ai”—meski banyak juga yang tidak, untuk artikel (opini, esei) belum pernah sekalipun ditemukan keterangan “tulisan dibuat oleh Ai”, atau setidak-tidaknya “hasil kolaborasi dengan Ai”.

Alih-alih begitu, tulisan Ai itu justru diakui sebagai tulisan si orang yang berkepentingan. Tidak ada yang mengakui bahwa si “penulis”, atau orang berkepentingan itu, hanya membuat Prompt, sementara detil tulisannya, hingga ke titik komanya, dibuat oleh Ai. Tidak ada juga yang mengakui bahwa si “penulis” sejatinya hanya mengedit. Mungkin mengganti satu dua kalimat agar tidak terlalu tampak buatan Ai, mungkin juga dengan membuat satu dua kesalahan tulis (typo), sementara bangunan pikirannya, gagasannya, perspektifnya, semua dari Ai.

Apakah menulis prompt sama dengan menuangkan gagasan, kata demi kata? Apakah karena sikap Ai atas suatu isu sama dengan sikap kita, lantas kita layak menyebut tulisan Ai sebagai tulisan kita? Entahlah, tapi bagi saya, itu adalah kebohongan, plagiasi.

Di zaman koran, plagiasi akan menghasilkan pencekalan. Tapi di masa Ai, itu sudah tidak penting lagi. Apa yang penting? Ahli membuat prompt.

Komentar