Dari Jhon Grisham hingga Karier yang Mampet

Setelah membaca buku John Grisham berjudul “The Runaway Jury”, aku merasakan beratnya menjadi seorang hakim. Hakim, dalam pandanganku waktu itu, harus memenangkan yang benar. Terlepas dari apa kebenaran itu. Hakim tidak boleh salah, atau menetapkan sesuatu padahal itu salah. Sementara dalam buku itu, hakim tak ubahnya bekerja dalam kegelapan karena system yang memastikan peradilan berlangsung secara fair telah disabotase oleh para pihak yang berperkara. Hakim tidak tahu bahwa ada agensi yang bekerja untuk memprofiling para Juri yang dipilih negara, yang diam-diam mengarahkan pandangan para juri terhadap perkara yang sedang diadili. Lalu hakim harus memutus berdasarkan keputusan para juri yang sudah disetting itu.



System hukum di Indonesia tidak mengenal juri tentu saja. Namun setelah membaca novel itu aku tahu satu hal; kerja hakim terlalu berat, aku tidak sanggup menanggungnya. Tidak mau.

Sialnya--atau lucunya, satu bulan kemudian, aku membaca pengumuman penerimaan hakim. Secara administrative aku memenuhi kualifikasi. Aku cukup lama menimbang apakah sebaiknya aku mencoba atau tidak, dan akhirnya kuputuskan aku akan mendaftar, toh seleksinya ketat, aku belum tentu lulus. Secara umum bisalah dikatakan aku nothing to lose. Namun, di hati kecilku diam-diam aku berharap bisa lulus. Terutama karena kondisiku saat itu tidak bisa dikatakan bagus.

Aku bekerja di Depok, di sebuah penerbitan, dengan gaji di bawah UMR. Bahkan ketika diangkat sebagai ketua tim salah satu lini penerbitan, penghasilanku tetap di bawah UMR. Aku tidak melihat prospek yang terang di sana. Aku melihat karirku mentok. Sangat mungkin turun, tetapi mustahil naik. Manajer? Tidak mungkin.

Itulah kenapa aku sering bilang ke istriku bahwa aku tidak mau hidup seperti si A (salah satu pegawai senior di sana), yang sudah berumur tetapi masih mengerjakan lay out, pekerjaan fresh graduate. Padahal karyawan sesenior itu, dengan pengabdian puluhan tahun, dia seharusnya sudah menjadi manajer. Namun, begitulah. Jenjang karir di penerbitan itu mampet. Orang-orang dekat saja yang bisa naik. Aku bisa menjadi ketua tim saja sudah luar biasa. Dan ternyata, itu pun kuperoleh dengan “menjatuhkan” orang lain.

Aku harus pakai “ternyata” karena memang aku tidak punya niat menjatuhkan kawan. Saat itu, aku hanya ingin naik gaji. Dan kesalahanku—yang tidak kusadari—saat itu adalah aku membandingkan kerjaku dengan kawanku yang senior dan gajinya lebih besar dariku. Aku bilang ke HRD saat itu, “tidak adil kalau orang yang kerjanya seregep digaji lebih kecil dari orang yang tidak seregep.” Ketika HRD meminta nama, nama kawanku itulah yang kuserahkan. Si HRD mengamini. Orang itu dipanggil, ditegur, tidak nyaman lagi di kantor, lalu keluar dan pindah. Sementara aku diangkat jadi ketua salah satu lini dan mendapat kenaikan gaji. Oh ya, tidak sampai 1 juta.

Kerja kawanku tidak bagus dan lelet. Begitulah kenyataannya. Kerjaan yang bisa diselesaikan dalam seminggu, dia kerjakan dalam satu bulan. Aku tidak memfitnah. Hanya saja, tetap saja aku merasa bersalah. Waktu itu sama sekali tidak ada niat. Aku hanya tidak memahami akibat dari perkataanku. Dan ketika aku mulai paham, yaitu ketika dia dipanggil HRD, itu sudah terlambat.

Dari kejadian itu, aku juga jadi paham bahwa di tempatku kerja sistem meritokrasi tidak jalan. Karir yang bagus tidak diperoleh dari kinerja yang bagus. Kalau kau bekerja dengan baik sesuai kapasitasmu, tidak ada jaminan karirmu akan naik. Karena orang yang bertugas untuk memantau kinerja pegawai tidak bekerja—atau tidak ada yang memantau? HRD hanya notice kalau kerjamu buruk. Maka, bekerja dengan baik saja tidak cukup. Kamu harus datang ke HRD, memberitahukan kepadanya bahwa kamu sudah bekerja dengan baik, dan agar HRD paham apa itu “kerja yang baik” kamu harus bandingkan dengan kawanmu yang menurutmu kerjanya buruk. Harus ada tumbal. Tidak cukup kompetisi dengan kinerja. Sikutmu juga harus kuat agar kawan bisa tumbang.

Itu jelas system yang buruk. Karyawan karenanya tidak memedulikan kinerja, karena yang penting adalah menjilat, menjadi bunglon. Kamu harus senyum manis di depan atasan, lalu berpura-pura setia kawan padahal di belakang siap menikam. Kehidupan macam apa itu? Entahlah. Tetapi aku pernah tinggal dan hidup di sana, dan bahkan menjadi salah satu aktornya.

Maka ketika ada kesempatan untuk menjadi hakim datang, meski sebenarnya aku nothing to lose, diam-diam aku berharap bisa lulus.

Dan alhamdulillah, aku memang lulus.

 

 

 

Komentar