System hukum di Indonesia tidak
mengenal juri tentu saja. Namun setelah membaca novel itu aku tahu satu hal;
kerja hakim terlalu berat, aku tidak sanggup menanggungnya. Tidak mau.
Sialnya--atau lucunya, satu bulan
kemudian, aku membaca pengumuman penerimaan hakim. Secara administrative aku
memenuhi kualifikasi. Aku cukup lama menimbang apakah sebaiknya aku mencoba
atau tidak, dan akhirnya kuputuskan aku akan mendaftar, toh seleksinya ketat,
aku belum tentu lulus. Secara umum bisalah dikatakan aku nothing to lose.
Namun, di hati kecilku diam-diam aku berharap bisa lulus. Terutama karena
kondisiku saat itu tidak bisa dikatakan bagus.
Aku bekerja di Depok, di sebuah
penerbitan, dengan gaji di bawah UMR. Bahkan ketika diangkat sebagai ketua tim
salah satu lini penerbitan, penghasilanku tetap di bawah UMR. Aku tidak melihat
prospek yang terang di sana. Aku melihat karirku mentok. Sangat mungkin turun,
tetapi mustahil naik. Manajer? Tidak mungkin.
Itulah kenapa aku sering bilang
ke istriku bahwa aku tidak mau hidup seperti si A (salah satu pegawai senior di
sana), yang sudah berumur tetapi masih mengerjakan lay out, pekerjaan
fresh graduate. Padahal karyawan sesenior itu, dengan pengabdian puluhan tahun,
dia seharusnya sudah menjadi manajer. Namun, begitulah. Jenjang karir di
penerbitan itu mampet. Orang-orang dekat saja yang bisa naik. Aku bisa menjadi
ketua tim saja sudah luar biasa. Dan ternyata, itu pun kuperoleh dengan
“menjatuhkan” orang lain.
Aku harus pakai “ternyata” karena
memang aku tidak punya niat menjatuhkan kawan. Saat itu, aku hanya ingin naik
gaji. Dan kesalahanku—yang tidak kusadari—saat itu adalah aku membandingkan
kerjaku dengan kawanku yang senior dan gajinya lebih besar dariku. Aku bilang
ke HRD saat itu, “tidak adil kalau orang yang kerjanya seregep digaji lebih
kecil dari orang yang tidak seregep.” Ketika HRD meminta nama, nama kawanku
itulah yang kuserahkan. Si HRD mengamini. Orang itu dipanggil, ditegur, tidak
nyaman lagi di kantor, lalu keluar dan pindah. Sementara aku diangkat jadi
ketua salah satu lini dan mendapat kenaikan gaji. Oh ya, tidak sampai 1 juta.
Kerja kawanku tidak bagus dan
lelet. Begitulah kenyataannya. Kerjaan yang bisa diselesaikan dalam seminggu,
dia kerjakan dalam satu bulan. Aku tidak memfitnah. Hanya saja, tetap saja aku
merasa bersalah. Waktu itu sama sekali tidak ada niat. Aku hanya tidak memahami
akibat dari perkataanku. Dan ketika aku mulai paham, yaitu ketika dia dipanggil
HRD, itu sudah terlambat.
Dari kejadian itu, aku juga jadi
paham bahwa di tempatku kerja sistem meritokrasi tidak jalan. Karir yang bagus
tidak diperoleh dari kinerja yang bagus. Kalau kau bekerja dengan baik sesuai
kapasitasmu, tidak ada jaminan karirmu akan naik. Karena orang yang bertugas
untuk memantau kinerja pegawai tidak bekerja—atau tidak ada yang memantau? HRD
hanya notice kalau kerjamu buruk. Maka, bekerja dengan baik saja tidak
cukup. Kamu harus datang ke HRD, memberitahukan kepadanya bahwa kamu sudah
bekerja dengan baik, dan agar HRD paham apa itu “kerja yang baik” kamu harus
bandingkan dengan kawanmu yang menurutmu kerjanya buruk. Harus ada tumbal.
Tidak cukup kompetisi dengan kinerja. Sikutmu juga harus kuat agar kawan bisa
tumbang.
Itu jelas system yang buruk.
Karyawan karenanya tidak memedulikan kinerja, karena yang penting adalah
menjilat, menjadi bunglon. Kamu harus senyum manis di depan atasan, lalu
berpura-pura setia kawan padahal di belakang siap menikam. Kehidupan macam apa
itu? Entahlah. Tetapi aku pernah tinggal dan hidup di sana, dan bahkan menjadi
salah satu aktornya.
Maka ketika ada kesempatan untuk
menjadi hakim datang, meski sebenarnya aku nothing to lose, diam-diam
aku berharap bisa lulus.
Dan alhamdulillah, aku memang lulus.
Komentar
Posting Komentar