RIP Kompas Minggu


Sebelum internet massif seperti sekarang, kebutuhanku akan berita dipenuhi koran, tepatnya Kompas. Kompas dipilih bukan tanpa alasan melainkan karena dua hal; pertama, koran ini adalah langganan Komplek A (terdiri dari kamar-kamar di pondok pesantren Nurul Ummah, penghuninya iuran untuk berbagai kebutuhan komplek termasuk koran) tempatku tidur waktu itu. Yang kedua; Kompas yang paling dapat dipercaya.

Koran-koran yang menjadi langganan komplek lain (komplek B dan C) awalnya kubaca juga. Namun, setelah aku menemukan cacat dari kedua koran itu—namanya tak perlu kusebutkan, kepercayaanku menjadi hilang.

Salah satu koran pernah tidak akurat dalam membuat berita. Aku ingat betul waktu si koran memberitakan event monolog salah satu seniman di Jogja, lokasinya di Bentara Budaya. Ketika event itu kudatangi, memang ada pentas monolog, tetapi monolog bukan acara utama seperti yang diwartakan oleh koran. Monolog hanya acara hiburan dalam pembukaan pameran lukisan. Ini bukan berarti monolog tidak penting, atau apa pun. Masalahnya koran itu membuat berita seolah-olah monologlah acara utamanya. Sementara pameran lukisan, yang sebetulnya acara utamanya, sama sekali tidak diberitakan. Berita di koran itu tidak akurats.

Adapun koran yang lain, aku menemukan typo dan kesalahan dalam pemenggalan kata. Aku lupa kata apa yang typo, lupa juga kata yang salah dipenggal. Yang kuingat betul hanyalah, ketika aku menemukan typo dan kesalahan pemenggalan kata itu, aku mulai meragukan kualitas pemberitaannya. Kredibilitas koran itu di mataku telah jatuh. Apa aku lebay? Mungkin. Hanya saja, bagiku, kredibilitas dibangun di atas integritas. Dan integritas ini tidak hanya tentang materi pemberitaan, tetapi juga bagaimana berita itu disajikan. Integritas adalah tentang keseluruhan. Maka, ketika aku menemukan typo dan kesalahan pemenggalan kata, aku tidak bisa mencegah pertanyaan yang muncul begitu saja di kepalaku; jika koran itu tidak bisa memastikan sebuah kata ditulis dengan benar, bagaimana memastikan isi beritanya benar? Jika koran itu tidak bisa memverifikasi penulisan berita, dapatkah kita percaya bahwa dia telah sungguh-sungguh dalam memverifikasi isi berita?

Cacat-cacat itulah yang tidak kutemukan—atau setidaknya belum pernah kutemukan—dalam Kompas. Sehingga Kompas menjadi satu-satunya rujukan.

Begitu tergantungnya dengan Kompas, aku pernah mengalami peristiwa yang dulu hanya kulihat dalam film. Aku uring-uringan hanya karena Kompas telat datang padahal waktu itu ada jadwal kuliah. Kegelisahan waktu itu sangat nyata. Aku bolak-balik seperti induk ayam yang gelisah menjaga telurnya di satu sisi, sekaligus berkeok-keok memastikan ‘Si Pengganggu’ pergi menjauh.

Opini Kompas membuatku merasa pintar—merasa saja ya. Datang ke kampus dengan bekal bacaan opini Kompas terbaru membuatku merasa memiliki perspektif baru, dan ini meningkatkan rasa percaya diriku. Maka ketika di hari itu aku tidak membaca Kompas karena dia telat, rasa percaya diriku di kampus benar-benar jatuh. Opini Kompas dan berita-berita yang kuanggap penting bahkan ku kliping untuk dibaca lagi dikemudian hari.

Namun, seiring berjalannya waktu, pertahananku ambrol juga. Banyaknya berita negatif di koran—ya tentu saja ini soal kelakuan politisi—membuatku jadi pesimis. Aku tidak menyalahkan koran tentu saja. Koran toh hanya menyampaikan peristiwa yang terjadi. Hanya saja, aku mungkin terlalu menganggap serius berita-berita itu sehingga lama kelamaan jadi stress sendiri.

Maka, aku berhenti membaca berita Kompas. Hanya membaca opini saja, itu pun dari penulis-penulis kesukaanku. Aku tetap membaca Kompas dengan serius tentu saja. Tetapi terbatas pada Kompas Minggu. Berita-berita ringannya adalah hiburanku. Rubrik tokohnya adalah inspirasiku. Puisi-puisinya adalah tempatku berlindung dari kenyataan yang membikin stress. Cerpennya paling kutunggu—Kompas Minggulah salah satu alasan kenapa aku menulis puisi dan cerpen di waktu itu. Begitu juga dengan esai-esainya.

Hari ini, aku sudah lamaaaaa sekali tidak membaca Kompas Minggu. Jangankan Kompas Minggu, membaca puisi atau cerpen secara khusus pun sudah lama tidak kulakukan. Internet mengubah perilakuku sebagaimana ia mengubah perilaku orang-orang di seluruh dunia. Aku tidak lagi berhubungan dengan Kompas Minggu.

Namun, ketika kudengar Kompas Minggu tamat pada tanggal 28 Desember 2025, ada kecamuk perasaan yang sulit didefinisikan. Perasaan itu seperti pengap yang sesaat menekan, lalu menggantung dan hilang pelan-pelan, meninggalkan kekosongan. Apakah itu karena sedih, menyayangkan, atau gabungan semua itu entahlah. Bisa juga karena sadar bahwa nostalgia yang dulu masih mungkin terjadi di suatu saat di masa depan telah menjadi sesuatu yang tidak memungkinkan. Semua itu hanya terjadi begitu saja, dan saat itu terjadi kamu tahu persis tidak ada yang dapat kamu lakukan.

Rest In Peace Kompas Minggu!

 

 

 

 

 

Komentar