Akhir-akhir ini aku sering bertanya ke diri sendiri, apa arti menjadi seorang “doktor”? Pertanyaan ini muncul karena banyaknya kawan seprofesi yang sudah menjadi doktor, atau minimal sedang menempuh S3. Juga karena gencarnya motivasi dan ajakan dari teman, plus ‘harga promo’nya tentu, untuk kuliah S3. Apa arti menjadi lulusan S3 sebetulnya?
Untuk kuliah s3 biaya yang dikeluarkan
tidak kecil. Seratus juta sudah terhitung amat sangat murah. Jadi, kalau ada orang
yang mau menghabiskan uang sebanyak itu, pastilah punya tujuan. Dan oleh karena
gelar doctor tidak berkaitan dengan pangkat-jabatan, maka sudah pasti ada
tujuan selain itu. Tapi apa?
Prestise?
Di sini mungkin bisa diajukan apa
yang namanya “prestise”. Saat orang sudah mapan secara sosial dan ekonomi, mungkin
ada secamam kemapanan lain yang coba dikejar demi kemampanan yang lebih sempurna,
yaitu kemapanan akademik. “Doktor”, satu kata itu sudah membuat dada berdebar. Daya
magisnya tidak kecil. Bagi kalangan seprofesi itu adalah stemple kedalaman ilmu,
basis paling kokoh untuk kepakaran di wilayah praktis. Bagi kalangan akademik
itu adalah tangga terakhir menuju puncak otoritas keilmuan.
Ya, boleh jadi sistem pendidikan kita
tidak sempurna. Mungkin dosen-dosen sekarang didorong oleh kampus masing-masing
untuk memberikan nilai dengan mudah dan ‘murah’. Mahasiswa asal rajin kuliah dan mau mengerjakan tugas sudah dapat nilai A. Mungkin
orang bisa membayar untuk menerbitkan artikel di jurnal ilmiah. Boleh jadi
selama setiap tahapannya bisa dijalani, cukup sekadar dijalani, setiap orang
bisa menjadi doktor, dan berpredikat cumlaud. Tetapi apakah setiap orang mampu
menjalaninya, mampu menjadi doktor? Tidak. Jadi, ini bukan hanya soal biayanya
yang mahal. Ini juga tentang stamina dan keteguhan yang dibutuhkan untuk menjalaninya,
yang pada kenyataanya tidak semua orang bisa. Dari situlah prestise itu lahir.
Prestise atau Bukan, sih?
Kesabaran, ketahanan dan daya juang
adalah nilai yang patut dihormati. Namun, kalau nilai utama dari doktor hanya sebatas
itu, atlet-atlet di setiap bidang olahraga sudah pasti lebih sabar, lebih berdaya
juang, dan lebih memiliki ketahanan. Tidak perlu menjadi sekaliber Federer,
tetapi bahkan atlet tenis daerah sudah memilikinya.
Maka, setiap orang yang menempuh s3
dan lulus bukan dipandang dari seberapa tahan stamina juangnya, tetapi apa pengetahuan
yang dia “ciptakan”, sehingga layak dianggap sebagai pemegang otoritas intelektual. Pemegang otoritas
intelektual artinya apa yang dia katakan dalam sesuatu yang berkaitan dengan
kepakarannya adalah benar, karena dia dianggap sebagai orang yang mengetahui
seluk beluk dari bidangnya. Tidak mungkin dia membuat sesuatu yang baru kalau
seluk beluk pengetahuan lama belum dia ketahui. Dia membuat sesuatu yang baru
karena pengetahuan lama sudah dia ubek-ubek dan ternyata pengetahuan lama itu
tidak cukup untuk menjawab persoalan. Dan itu berhasil dia pertanggung jawabkan. Inilai
prestise seorang doctor seharusnya.
Apakah system Pendidikan kita
mampu membuat doctor yang seperti itu? Silakan jawab sendiri.
Komentar
Posting Komentar